Setelah urusan di Jakartanotebook.com selesai, saya bergegas ke kantor. Nah, berhubung jalan ke halte TransJakarta lumayan jauh, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan moda angkutan ojek online saja.
Kali ini saya mencoba menggunakan aplikasi Anterin. Saya mendapat informasi aplikasi ini dari driver ojek Uber sebelum pelopor transportasi online itu dicaplok Grab. Konon driver Anterin kebanyakan berasal dari Uber.
Aplikasi Anterin ini cukup unik dan sangat berbeda dengan 3 aplikasi angkutan online yang pernah saya gunakan yakni, Uber, Grab, dan Gojek.
Bedanya dimana?
Bedanya yakni, kalau di aplikasi Grab dan Gojek, saat kita memesan driver maka kita disajikan tarif yang sudah dipatok sekian rupiah. Sedangkan di Anterin saat kita memesan driver maka kita akan disodori beberapa driver yang masing-masing menawarkan tarif yang berbeda-beda. Biasanya semakin dekat posisi driver dengan lokasi kita memesan maka semakin mahal pula tarifnya yang ditawarkannya.
Selanjutnya saya memilih satu driver dengan tarif termurah. Klik......dan setelah itu kita terhubung dengan driver yang kita pesan. Ada baiknya, kita telebih dulu menghubungi driver untuk memastikan bahwa di driver segera menjemput kita. Supaya kita tidak terlalu lama menunggu.
Setelah menunggu beberapa saat, driver Anterin yang saya pesan pun tiba. Ternyata si driver yang datang berperawakan agak tua dan dia masih mengenakan helm Uber warna orange di kepalanya.
Di sepanjang jalan saya mengobrol ngalor-ngidul dengan si bapak driver yang saya perkirakan usianya di kisaran 50-60 tahun. Si bapak itu cerita bahwa dia juga baru pertama kali membawa penumpang Anterin setelah sebelumnya narik Uber.
"Saya baru kali ini bawa penumpang Anterin. Sebelumnya udah ada beberapa yang pesan ke saya di aplikasi ini tapi saya juga heran kenapa mereka membatalkan pesanannya, padahal saya sudah memasang tarif yang menurut saya paling murah yaitu Rp1.000 per kilometer perjalanan. Kenapa ya? Mungkin penumpang itu merasa kelamaan menunggu kali ya, karena lokasi saya dengan calon penumpang yang akan dijemput lumayan jauh,"cerita si bapak Anterin.
Tanpa terasa, sambil mengobrol, akhirnya saya sudah sampai di depan kantor. Turun dari sepeda motor bapak itu saya bayar dengan memberi sedikit lebihan dari tarif yang tercantum di aplikasi.
"Makasih ya Pak, semoga lancar usahanya dan sehat selalu ya Pak," ucap saya sambil menyerahkan helm.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar