Senin, 16 April 2018

NUMB



Mengapresiasi request teman yang minta saya upload cerita terbaru di blog pejalan kaki dan komutermania, berikut cerita hari ini saya lagi menikmati banget lagu ini. 

Dari sejak di peron stasiun, naik krl komuter, hingga sampai di stasiun tujuan, lanjut jalan kaki sampai tiba di kantor, berulang-ulang lagu ni diputar.







NUMB

By Linkin Park

I'm tired of being what you want me to be
Feeling so faithless, lost under the surface
I don't know what you're expecting of me
Put under the pressure of walking in your shoes
Caught in the undertow, just caught in the undertow
Every step that I take is another mistake to you
Caught in the undertow, just caught in the undertow
I've become so numb, I can't feel you there
Become so tired, so much more aware
By becoming this all I want to do
Is be more like me and be less like you
Can't you see that you're smothering me?
Holding too tightly, afraid to lose control
'Cause everything that you thought I would be
Has fallen apart right in front of you
Caught in the undertow, just caught in the undertow
Every step that I take is another mistake to you
Caught in the undertow, just caught in the undertow
And every second I waste is more than I can take!
I've become so numb, I can't feel you there
Become so tired, so much more aware
By becoming this all I want to do
Is be more like me and be less like you
And I know I may end up failing too
But I know you were just like me with someone disappointed in you
I've become so numb, I can't feel you there
Become so tired, so much more aware
By becoming this all I want to do
Is be more like me and be less like you
I've become so numb, I can't feel you there
I'm tired of being what you want me to be
I've become so numb, I can't feel you there
I'm tired of being what you want me to be

Penulis lagu: Brad Delson / Chester Charles Bennington / Dave Farrell / Joseph Hahn / Mike Shinoda / Robert G. Bourdon
Lirik Numb © Universal Music Publishing Group


Selasa, 10 April 2018

Pengalaman Pertama Kali Naik Anterin



Setelah urusan di Jakartanotebook.com selesai, saya bergegas ke kantor. Nah, berhubung jalan ke halte TransJakarta lumayan jauh, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan moda angkutan ojek online saja.

Kali ini saya mencoba menggunakan aplikasi Anterin. Saya mendapat informasi aplikasi ini dari driver ojek Uber sebelum pelopor transportasi online itu dicaplok Grab. Konon driver Anterin kebanyakan berasal dari Uber.

Aplikasi Anterin ini cukup unik dan sangat berbeda dengan 3 aplikasi angkutan online yang pernah saya gunakan yakni, Uber, Grab, dan Gojek.

Bedanya dimana?

Bedanya yakni, kalau di aplikasi Grab dan Gojek, saat kita memesan driver maka kita disajikan tarif yang sudah dipatok sekian rupiah. Sedangkan di Anterin saat kita memesan driver maka kita akan disodori beberapa driver yang masing-masing menawarkan tarif yang berbeda-beda. Biasanya semakin dekat posisi driver dengan lokasi kita memesan maka semakin mahal pula tarifnya yang ditawarkannya.

Selanjutnya saya memilih satu driver dengan tarif termurah. Klik......dan setelah itu kita terhubung dengan driver yang kita pesan. Ada baiknya, kita telebih dulu menghubungi driver untuk memastikan bahwa di driver segera menjemput kita. Supaya kita tidak terlalu lama menunggu.

Setelah menunggu beberapa saat, driver Anterin yang saya pesan pun tiba. Ternyata si driver yang datang berperawakan agak tua dan dia masih mengenakan helm Uber warna orange di kepalanya.

Di sepanjang jalan saya mengobrol ngalor-ngidul dengan si bapak driver yang saya perkirakan usianya di kisaran 50-60 tahun. Si bapak itu cerita bahwa dia juga baru pertama kali membawa penumpang Anterin setelah sebelumnya narik Uber.

"Saya baru kali ini bawa penumpang Anterin. Sebelumnya udah ada beberapa yang pesan ke saya di aplikasi ini tapi saya juga heran kenapa mereka membatalkan pesanannya, padahal saya sudah memasang tarif yang menurut saya paling murah yaitu Rp1.000 per kilometer perjalanan. Kenapa ya? Mungkin penumpang itu merasa kelamaan menunggu kali ya, karena lokasi saya dengan calon penumpang yang akan dijemput lumayan jauh,"cerita si bapak Anterin.

Tanpa terasa, sambil mengobrol, akhirnya saya sudah sampai di depan kantor. Turun dari sepeda motor bapak itu saya bayar dengan memberi sedikit lebihan dari tarif yang tercantum di aplikasi.

"Makasih ya Pak, semoga lancar usahanya dan sehat selalu ya Pak," ucap saya  sambil menyerahkan helm.



Antara KRL Commuterline dan Bus TranJakarta, Sebuah Kebetulan yang Manis !



Siang ini, seusai sholat dzuhur, saya berangkat ke showroom Jakartanotebook.com di Ruko Podomoro City, Grogol.

Seperti biasa angkutan yang saya gunakan adalah KRL Commuterline. Berangkat dari stasiun Citayam. Nah, saat di dalam KRL saya berpikir akan menyambung dengan angkutan apa setelah turun di salah satu stasiun KRL Commuterline.

Saya menimbang-nimbang antara naik ojek online atau naik bus TransJakarta.

Akhirnya saya memutuskan nyambung dengan bus TransJakarta. Semata dikarenakan cuaca yang cukup terik panas siang hari.

Dan saya pun turun di Stasiun Cawang, selanjutnya melewati terowongan terus keluar ke atas persis di samping depan gedung kosong yang konon katanya angker bernama Menara Saidah. Lalu berjalan sedikit ke sisi barat dan naik ke tangga bertingkat-tingkat jembatan penyeberangan ke arah halte Bus TransJakarta Cawang. Lumayan tinggi euy...heehehe...

Hap...naiklah ke dalam bus TranJakarta yang lumayan kosong dan alhamdulillah dapat duduk.

Turun di halte Podomoro City lalu berjalan kaki ke arah Mall Central Park. Melintasi jembatan penyeberangan bus TransJakarta yang terbuat dari lempengan plat baja silver dan di ujungnya tersambung dengan jalan terbuat dari beton yang diperindah pot dan pepohonan di pinggirannya, seakan menjelaskan demarkasi antara jalan ruang publik  dan jalan milik pengembang mal.

Lalu saya terus berjalan hingga keluar area mal ke Jalan Podomoro City menuju ruko berlantai dua, showroom penjualan dan service center Jakartanotebook.com.

Dan.....ahay....saya tiba pukul 15.15 dan mendapat nomor antrean 15.
Sebuah kebetulan yang manis.



Rest in Peace UBER





Rest in Peace UBER
Pelopor aplikasi angkutan online ini terhitung mulai 9 April 2018 sudah tiada di Bumi Pertiwi. Uber pun tumbang dan memutuskan merger dengan grab.
Kini perang aplikasi angkutan online head to head antara grab vs gojek

Menjadi yang pertama bukan berarti digjaya
Menjadi yang pertama bukan berarti jadi pemenang
Menjadi yang pertama bukan berarti mudah untuk menguasai pasar

NUMB

Mengapresiasi request teman  yang minta saya upload cerita terbaru di blog pejalan kaki dan komutermania, berikut cerita hari ini saya ...